Page Popularity
Latest Post
- Dukungan Latihan SEO untuk Pemula
- Miris
- Back to School, Haruskah ?
- From Zero to Hero
- PTC, Cara Mudah Mencari Dolar di Internet
- Beranikah Mengambil Langkah Pertama ?
- Update Lagi, Semangat ! Semangat !
- Kehamilan Pasca Kanker
- MERETAS ASA
- Mayday, Antara Buruh dan Pengusaha
Categories
Links
- The Clickers
- PageRank Meter
- Seputar Balita
- Yossy Rahadian
- Lirik Pernah Muda
- Latihan SEO Untuk Pemula
- wallpaper1001
- FreeWebSubmission
Supported
Live Counter
Archives
Traffic Stat
Miris
Melihat anak muda penjual sate yang usianya masih belasan tahun, berjualan di sore menjelang malam, basah kuyup ditengah hujan rintik-rintik, masih tetap dengan suaranya yang khas, sateeee..!
Hati ini miris.
Tukang Cuci
Beberapa bu-ibu bangun jam satu malam untuk pergi mencuci di rumah orang lain, tidak perduli hujan, atau udara yang dingin menggigil. Dan ketika pagi menjelang, tangan yang bekerja setengah malam itu sudah tidak berasa, pecah-pecah[...]Tukang Sate
Melihat anak muda penjual sate yang usianya masih belasan tahun, berjualan di sore menjelang malam, basah kuyup ditengah hujan rintik-rintik, masih tetap dengan suaranya yang khas, sateeee..!
Hati ini miris.
Tukang Cuci
Beberapa bu-ibu bangun jam satu malam untuk pergi mencuci di rumah orang lain, tidak perduli hujan, atau udara yang dingin menggigil. Dan ketika pagi menjelang, tangan yang bekerja setengah malam itu sudah tidak berasa, pecah-pecah dan bahkan berdarah. Demi satu atau dua suap makanan dan jajan anak-anak.
Hati ini miris.
Emang Siomay
Emang ini berjualan sejak suami saya masih di SD, sekitar 20 tahun yang lalu, sampai hari ini. Entah berapa ratus kilometer yang ia telah tempuh dengan pikulannya yang itu-itu juga, dengan bajunya yang nyaris itu-itu juga, dan bau badannya yang begitu-begitu juga. Sampai kapan bahunya akan sanggup memikul kotak berisi siomaynya itu ?
Hati ini miris.
Teroris
Amrozi cs. telah pergi menemui Dzat yang sangat mereka cintai. Nama mereka tercatat di bumi ini sebagai bagian dari jaringan teroris. Entahlah siapa yang sebenarnya teroris, hanya Dia Yang Maha Sempurna yang tahu jawabannya, dan saya yakin saat ini Amrozi cs. pun telah tahu mereka ada di posisi mana.
Hati ini miris.
Koruptor
Tua, rambut penuh uban, duduk di kursi pesakitan, menunggu vonis, bahkan ada yang sampai terkencing-kencing. Rumah mewah, vila di pegunungan, cucu-cucu yang lucu, rencana pensiun yang damai, tinggal angan-angan. Uang milyaran pernah mampir di rekeningnya, ternyata hanya jadi petaka di hari tua.
Hati ini miris.
Miris, hanya sekelebat rasa, atau secuil peka yang sudah lama ini nyaris sirna. Mungkin tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan. Tapi setidaknya, perasaan miris membuat kita semakin mensyukuri apa yang kita miliki, dan memberi sebagian dari yang kita punyai. Bahkan orang-orang paling bahagiapun tidak selalu memiliki semua yang terbaik, tapi mereka menyikapi semua yang mereka miliki dengan cara yang terbaik. Karena berbahagia, adalah pilihan.
Label: opini
Mayday, Antara Buruh dan Pengusaha
Suasana mayday masih terasa. Ribuan pengunjuk rasa menyemut di setiap sudut. Sudah kehilangan gregetnya, menurutku. Dilakukan setiap tahun layaknya seremonial belaka. Mayday tahun ini jatuh bertepatan dengan hari libur yang lumayan panjang. Jadi jangan heran kalau di hari Kamis yang panas ini, sementara para buruh berteriak-teriak di depan istana, bundaran HI, dan di jalan-jalan protokol ibukota, maka para pengusaha sedang tetirah mengunjungi salah satu villanya atau bahkan ke pulau dewata. Siapa yang mau melewatkan liburan 4 hari ini ?Para buruh selalu berfikir...
Selama ini buruh selalu jadi sapi perah. Diberikan pekerjaan yang banyak dengan loyalitas yang total, tapi dibayar dengan gaji yang minimal. Diperlakukan tidak adil dengan berlindung pada undang-undang yang abu-abu. Padahal perusahaan tidak akan berjalan tanpa buruh, tapi kenapa pengusaha berbuat semena-mena ? Mengapa undang-undang outsorcing bisa lolos ? kenapa pemerintah lebih dekat kepada pengusaha daripada kepada buruh. Hanya mereka yang menutup mata dan telinga, yang tidak tahu akan semua realita ini. Apakah buruh salah ?
Para pengusaha berfikir...
Kontribusi pengusaha itu besar, baik pada masyarakat atau pada pemerintah. Tidak akan ada pegawai tanpa ada perusahaan. Tidak akan ada pendapatan pajak tanpa ada kegiatan produksi atau jasa. Dan sudah jelas dalam semua teori ekonomi, bahwa tujuan ekonomi adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang seminimal mungkin. Dalam setiap jenis pengeluaran. Bukan pelit atau serakah. Tapi standar gaji ini terbentuk dengan sendirinya. Kalau seorang teknisi mau digaji 1 juta, berarti ya itulah standar gaji seorang teknisi.
Dan lebih kasarnya lagi, kalau anda sebagai pegawai tidak suka bekerja di perusahaan saya, dengan gaji dan fasilitas yang saya tawarkan, silahkan cari tempat lain. Karena ratusan juta mengantri di belakang anda untuk mendapatkan posisi ini. Semua ini bukan masalah kasar atau tidak, tapi inilah faktanya. Kalau anda mau dibayar lebih, belajarlah yang lebih pula, lakukanlah yang lebih pula. Jangankan pengusaha local, pengusaha asingpun akan memperebutkan anda. Apakah pengusaha salah ?
Pemerintah berfikir...
Masyarakat sangat butuh lapangan kerja. Daripada mencari jauh-jauh ke negeri orang, lebih baik mengundang banyak investor agar datang ke negeri ini. Bagaimana mengundang investor ? mudahkan semua birokrasi dan fasilitas, dan murahkan harga tenaga kerja. Dan pemerintah tinggal membuat penyeimbang antara keinginan pengusaha dengan keinginan buruh. Apakah pemerintah salah ?
Lalu siapa yang dianggap benar ?
Catatan : Gambar dari www.cartoonstock.com
Label: opini
Blogger Custom Domain
Akhirnya setelah beberapa lama kebingungan setting custom domain untuk blog ini, ketemu juga masalahnya, sekarang blog ini url-nya jadi mommyshafa.cn, dan alhamdulillah up sekitar dua hari yang lalu.Harga domain dot CN-nya sendiri, sangat murah hanya Rp 2300, register di Idwebhost, kebetulan registernya pas ada promo jadinya murah benget. Beli sekitar 22 domain, agak kebingungan juga sih ngasih nama-nya soalnya banyak banget. hehehhe.
Beberapa dari domain dot cn nya, udah ada yang di parkirin di SEDO, ya ga berharap banyak sih, soalnya belum keindex, daripada dianggurin ga jelas, ya jadinya di parkirin, harapannya kali aja ada yang nyasar.
Kalo ada yang mau Custom domain juga, silahkan mampir ke blog-nya mas agus, ada panduan yang lengkap untuk custom domain blogger.
Pidatonya Steve Jobs (Kisah Motivasi)
Baca Lanjutannya»Ga sengaja mampir ke blognya Endri Susanto, dan nemu pidatonya Steve Jobs, pidato yang sangat menyentuh, dan sangat terinspirasi jadinya. Saya copas aja ya...Steve Jobs’ Convocation Speech (Stanford)
This is the text of the Commencement address by Steve
Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation
Studios, delivered on June 12, 2005.
I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation.
Today I want to tell you three stories from my life.
That’s it. No big deal. Just three stories.
Steve Jobs’ Convocation Speech (Stanford)
This is the text of the Commencement address by Steve
Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation
Studios, delivered on June 12, 2005.
I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation.
Today I want to tell you three stories from my life.
That’s it. No big deal. Just three stories.
The first story is about connecting the dots.
I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?
It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.
And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.
It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5? deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:
Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.
None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something - your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.
My second story is about love and loss.
I was lucky ? I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation - the Macintosh - a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.
I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down - that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me ? I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.
I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.
During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I retuned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance.
And Laurene and I have a wonderful family together.
I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.
My third story is about death.
When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.
Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure - these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.
About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.
I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.
This was the closest I’ve been to facing death, and I hope its the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma - which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960’s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.
Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: “Stay Hungry. Stay Foolish.” It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.
Stay Hungry - Stay Foolish
Thank you all very much.
Kalo agak bingung ada versi bahasa indonesianya juga nih...
Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.
Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik.
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO?
Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya– yang hanya pegawai rendahan– habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya –saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali– saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.
Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu–semua harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.
Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma–yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.
Stay Hungry - Stay Foolish
Ibu Bekerja Sebaiknya Pasang CCTV
Maaf kalau saya terlihat sombong, ga toleran, atau terlalu membesar-besarkan. Saya cuma melihat dengan kacamata saya yang mungkin saja buram atau keliru.
Hampir sebulan ini memasukan Shafa ke playgroup, dan ini menambah interaksi saya dengan orang lain. Dengan ibu-ibu dari murid PG tersebut atau kebanyakan dengan mbak-mbak pengasuh anak murid. Saya mengamati bagaimana ibu-ibu lain mengasuh anaknya, dan bagaimana mbak-mbak baby sitter juga mengasuh anak majikannya. Ada perbedaan, jelas sekali.
Bagi seorang ibu, mengasuh anak adalah mencurahkan cinta dan kasih sayang bahkan memanjakan pada kesempatan yang tepat. Bagi seorang baby sitter, mengasuh seorang anak adalah kewajiban, adalah rupiah yang lumayan, adalah memberi mereka makanan, susu, dan membuat anak-anak asuhnya tidak menangis. Saya terlalu kasar ya…mungkin tidak semua BS seperti itu, tapi kebanyakan sepertinya begitu. Sekali lagi, ini semua adalah pengamatan saya, bisa benar atau salah.
Ada BS yang memberi ancaman-ancaman ‘kecil’ saat anak asuhannya ga mau makan. Menanggapi ‘kenakalan’ anak-anak dengan muka cemberut. Membiarkan anak asuhnya entah kemana, sementara mereka mengobrol ria dengan mbak-mbak yang lain. Entahlah (sekali lagi mungkin saya berlebihan), tapi saya sering iba pada anak-anak balita ini.
Saya pernah merasakan jadi ibu bekerja, kadang itu pilihan yang amat sulit ketika kita dihadapkan pada kebutuhan hidup yang berat. Aku Cuma bisa memantau anakku selama 12 jam dari telepon. Anakku makan apa belum, tidur apa belum, dsb. Aku hanya ingin semua baik-baik saja, tanpa bisa melakukan lebih dari itu. Mungkin saran buat ibu-ibu yang bekerja kalau di rumah ada CCTV akan jauh lebih baik. Karena selain anak harus makan, minum susu, tidur dsb. ada proses di dalamnya yang juga sangat penting. Proses pemberian makan, proses menidurkan, memberinya susu, dsb. Semua itu akan jadi bekal psikologis dia seumur hidup. Akan menjadi pondasi dari sebagian besar dari akhlak dia nanti, bagaimana menyikapi lingkungan di sekitarnya.
Salut buat setiap bunda yang bekerja demi keluarganya, ada pahala sodaqoh yang besar disana. Apalagi kalau buah hati, tetap yang utama.
Saya bukan psikolog, saya hanya sedikit mengamati, dan sharing.
Maia versus Dhani
Realita cinta, jalan hidup, dan permasalahan dua kepala ternyata tidak selalu semanis lagu-lagu cinta, atau puisi-puisi karya pujangga. Tidak harus hitam atau putih, benar atau salah. Ada kalanya kita dipaksa berhadapan dengan area abu-abu. Begitupun Maia dan Dhani. Mungkin cinta masih ada dan tidak akan punah dalam hati mereka. Tapi dalam cinta itu juga ada ketidakpuasan, ada saling menyakiti dan banyak balas dendam.
Baca Lanjutannya »Duh sebenarnya saya sama sekali tidak begitu suka menulis sesuatu yang berbau issue atau gossip di blog ini. Tapi persoalan Maia dan Ahmad Dhani ini begitu kuat diberitakan media, jadi gatal juga pengen memberikan komentar.
Realita cinta, jalan hidup, dan permasalahan dua kepala ternyata tidak selalu semanis lagu-lagu cinta, atau puisi-puisi karya pujangga. Tidak harus hitam atau putih, benar atau salah. Ada kalanya kita dipaksa berhadapan dengan area abu-abu. Begitupun Maia dan Dhani. Mungkin cinta masih ada dan tidak akan punah dalam hati mereka. Tapi dalam cinta itu juga ada ketidakpuasan, ada saling menyakiti dan banyak balas dendam.
Mengalah ? kadang mengalah pun bukan solusi. Pihak yang mengalah bisa saja akan menyesali kekalahannya seumur hidup dia. Dan pihak yang dimenangkan, mungkin saja akan semakin besar kepala. Dan cita-cita bahagiapun akan tetap jadi angan-angan. Mungkin yang benar adalah mencari jalan tengah. Lakukan pengorbanan oleh kedua belah pihak, yang kadarnya sama besar. Tunjukkan bahwa tujuan hidup mereka di dunia ini adalah pernikahan itu sendiri, dan yang lain adalah nothing. Hal ini mungkin bisa mengembalikan mereka ke titik nol, titik ketika mereka yakin pada diri sendiri bahwa inilah pasangan hidupnya.
Kesombongan.
Itulah pemicu semua masalah di muka bumi ini. Negara-negara besar menginvasi Negara kecil, orang kaya memperalat orang kecil, pemimpin mengakali rakyatnya. Itulah karena dan untuk mengukuhkan kesombongan manusia. Diri yang hina ini kadang lupa kalau dulu kita terlahir dari setetes mani yang kotor. Kemudian terlahir tidak berbaju dan terjatuh-jatuh saat belajar merangkak. Fase yang sama pada semua orang. Namun banyak yang lupa ketika sedikit ilmu dan harta dititipkan kepada mereka.
Jadi buat Mbak Maia (maaf banget saya tidak menggurui), mungkin keinginan Mas Dhani melihat Mbak Maia solehah, berjilbab dan tinggal di rumah. Sebenarnya bagus juga kalau keinginannya seperti itu. Yah walaupun saya juga heran, kok Dhani ingin istrinya solehah, tapi dia sendiri punya produk yang menjual keseksian wanita. Oh iya Mbak Maia, saya mengenal salah satu kakak anda yang berjilbab panjang dan sering memberikan ceramah, mungkin Mbak juga bisa belajar banyak dari beliau. Jadi solehah kan kewajiban, dengan atau tanpa disuruh oleh Ahmad Dhani, betul ?
Buat Ahmad Dhani, menceraikan lebih baik daripada terus menerus menyakiti. Dan memaafkan jauh lebih baik daripada menceraikan. Suami yang paling baik adalah suami yang paling lembut terhadap istrinya.
Maaf kalau tulisan ini kurang berkenan, masalah rumit seperti ini bisa saja terjadi pada siapapun, dengan siapapun. Semoga membuat penyimaknya semakin arif dan bisa belajar banyak.

Label: opini
Anthurium, Tanaman Ajaib !
Kalau ada pasangan yang sering kirim mengirim bunga, kayaknya sekarang harus mulai beralih deh dari setangkai mawar menjadi satu pot anthurium. Kan bisa sekalian buat investasi…ya kan ? hehehe…
Sejak mendengar kabar kehebatan harga anthurium ini, ada yang menggelitik dalam kepalaku. Kok bisa ya, tanaman yang tidak bisa disebut langka ini berharga selangit. Kalau tanaman ini disebut bagus, ya emang enak dilihat sih, saya sendiri bukan pengamat bunga yang bisa mendefinisikan bagusnya dimana. Tapi kalau harganya bisa ratusan juta, tetap saja saya geleng-geleng kepala. Apakah sudah segitu banyaknya ya orang puyeng di Indonesia gara-gara kebanyakan duit sampe beli bunga yang suatu hari bisa layu dan mati dengan harga semahal itu. Tapi kok ya aku agak-agak curiga ya..jangan-jangan…..
Kalau ada pasangan yang sering kirim mengirim bunga, kayaknya sekarang harus mulai beralih deh dari setangkai mawar menjadi satu pot anthurium. Kan bisa sekalian buat investasi…ya kan ? hehehe…Sejak mendengar kabar kehebatan harga anthurium ini, ada yang menggelitik dalam kepalaku. Kok bisa ya, tanaman yang tidak bisa disebut langka ini berharga selangit. Kalau tanaman ini disebut bagus, ya emang enak dilihat sih, saya sendiri bukan pengamat bunga yang bisa mendefinisikan bagusnya dimana. Tapi kalau harganya bisa ratusan juta, tetap saja saya geleng-geleng kepala. Apakah sudah segitu banyaknya ya orang puyeng di Indonesia gara-gara kebanyakan duit sampe beli bunga yang suatu hari bisa layu dan mati dengan harga semahal itu. Tapi kok ya aku agak-agak curiga ya..jangan-jangan…..
Jangan-jangan ini hanya strategi pemasaran, dari orang-orang tertentu. Mungkin tiba-tiba semua anthurium dia borong, lalu dia tentukan sendiri harganya. Baru setelah itu banyak orang menanamkan modalnya secara gila-gilaan pula…Atau entahlah…cuman saya merasa ada keganjilan aja. Kebetulan kemarin ada telisik mengenai masalah ini di ANTV, katanya bahkan diindikasikan ada modus pencucian uang, betulkah ? Membeli sebuah pohon anthurium saat ini kayaknya hanya untuk berspekulasi, siapa tahu bisa dijual jauh lebih mahal. Biasalah adat orang Indonesia, yang suka latah. Kalau menurutku sih, anthurium ini kayak kita membeli produk MLM, membeli barang biasa yang harganya tinggi, dengan harapan dapet keuntungan lain.
Saya pernah baca beberapa artikel bisnis, katanya kurang bagus kalau mengikuti arus bisnis yang benar-benar sedang booming. Karena biasanya cepat booming, kejatuhannyapun akan cepat pula. Kita lihat saja, bisa sampai kapan bisnis anthurium ini akan berkibar.
Kalau anda tetap mau beli pohon ini ya terserah sih, emang susah juga kalau kebanyakan uang ya, minimal punya anthurium kan agak sedikit naik juga prestise kita…hehehe…Oh iya, kan lukisan juga bisa berharga ratusan juta ya, tapi kalau lukisan wajarlah ya, kan ga bisa beranak pinak…hmmm.
Label: opini
Polemik Poligami
Baca LanjutannyaWanita Pakistan ini begitu solehah. Dia sering mengatakan bahwa, orang yang banyak berpuasa, akan masuk syurga dari pintu puasa, orang yang banyak sholat malam, akan masuk syurga dari pintu sholat malam, tapi wanita yang berbakti pada suaminya dia akan masuk syurga dari pintu mana saja. Begitu solehnya wanita ini, dia mau melakukan apapun untuk menyanangkan hati suaminya. Pernah pula dia keliling asrama sebuah sekolah untuk mencarikan istri lagi buat suaminya. Katanya ini demi kebahagiaan dan keridhoan suaminya. Nah lo…. ??????Cerita ini adalah kisah nyata yang pernah saya dengar dari pengalaman seorang ustadzah. Ibu ustadzah inipun kebetulan pernah ditawari jadi istri muda oleh wanita Pakistan ini.
Perempuan seperti itu sekarang semakin jarang dan akan semakin langka. Pemikirannya pasti akan mendapat banyak serangan dan dianggap orang aneh. Tapi itulah keyakinan, itulah pilihan jalan hidup. Kalau para feminis menganggap wanita sering dideskreditkan, maka seharusnya mereka mulai bertoleransi pada keyakinan orang lain. Tidak selamanya bercerai atau berpoligami itu suatu kesalahan.
Yang saya tahu, hukum dasar berpoligami dalam Islam adalah mubah yang artinya boleh. Setara dengan hukum makan dan minum, selama bukan makanan yang diharamkan, maka boleh-boleh saja. Tapi poligami selain punya tanggung jawab secara vertikal, juga berdampak secara sosial. Ada istri pertama, dan anak-anak dari istri pertama. Status mubah ini jadi agak rumit karena ada permainan perasaan orang lain. Apakah suami boleh jika tidak memperdulikan perasaan istrinya ? secara hukum syarat sah, boleh saja suami menikah tanpa persetujuan istri pertama. Tapi berhati-hatilah dengan dampak sosialnya.
Pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul adalah :
Apakah saya pribadi menyetujui poligami ?
Ya saya setuju. Karena salah satu isi ayat Al-Quran adalah izin berpoligami, maka dimanapun, siapapun, orang yang mengaku dirinya Islam harus menerima isi ayat ini. Titik. Tidak ada tetapi.
Apakah poligami harus ada syaratnya ?
Pada dasarnya syarat untuk berpoligami hanya suami harus bisa berlaku adil. Tapi saya kira, seperti juga hukum menikah, maka status sosial seorang lelaki harus diperhitungkan. Kondisi anak dan istri pertama juga harus jadi pertimbangan.
Apa dampak negative dan positifnya dari berpoligami ?
Semua tingkah laku, kegiatan, keputusan, atau apapun, selalu mengandung unsur resiko. Kadarnya akan berbeda pada setiap orang. Menurut saya sisi positif poligami adalah akan menekan angka perselingkuhan (mungkin ya, karena saya tidak melakukan riset). Dan akan membantu dan memuliakan lebih banyak wanita. Sedangkan negatifnya, namanya mengurus dua rumah tangga, akan ada lebih banyak problem, akan lebih banyak pengeluaran materi, dan akan membuka peluang saling iri, dengki, dan menyakiti perasaan.
Pertanyaan paling memojokan adalah, apakah saya sendiri siap jika dipoligami ?
Jawaban saya sejak dulu adalah, sampai saat ini saya belum siap….hehehe….Boleh dong kalau jauh di lubuk hati saya menginginkan suami saya hanya untuk diri saya sendiri.
Catatan kecil ini saya buat hanya untuk sharing, karena saya bukan ahlinya dalam bidang ini. Saya hanya mencurahkan apa yang saya tahu, mungkin bisa benar atau bisa juga salah.
Peeeeeeeeeeace !!!
Label: opini
Sebungkus Mie Instan, untuk Lima Tahun
Baca Lanjutannya
Di kampung pinggiran kota ini, hari minggu besok akan diadakan hajatan. Tetua kampung sudah selesai mendata, dan semua warga wajib berpartisipasi. Karena ini adalah hajat lima tahunan. Itu artinya jika hari Minggu ini seseorang melakukan kesalahan, maka akibatnya akan dirasakan selama lima tahun kedepan. Agak mengerikan. Tapi tetap saja tidak banyak warga yang menyadari.Beberapa hari sebelum hajatan ini dimulai, poster sudah dipasang dimana-mana, di depan mesjid, di atas perempatan jalan, di gerbang-gerbang rumah juga di pohon-pohon. Meriah sekali. Bahkan muncul pula di layar televisi. Poster dan iklan-iklan itu menebar jutaan janji, menyebar ribuan harapan. Ada yang bilang bukan janji tapi bukti. Ada yang bilang kampung ini butuh perubahan. Bahkan ada yang mengutip hadist Nabi, dengan maksud menjatuhkan saingannya. Apa-apaan ini. Ada apa dibalik janji-janji yang manis itu ?
Kenapa hari ini ratusan orang masih mengantri demi tiga liter minyak tanah. Kenapa hari ini, ratusan ribu orang mengantri daftar untuk menjadi pembantu di negeri orang.
Janji-janji itu sekarang tidak penting lagi, karena pilihan kami hanya jatuh bagi siapapun yang membagi-bagi jatah mie instan. Cukuplah mie instan yang mewakili loyalitas kami. Bagi kami janji-janji itu tidak penting lagi. Dan urusan perut kami lima tahun ke depan, adalah hak prerogative Tuhan, yang tak bisa diganggu gugat. Hari ini mari kita rayakan saja hajatan ini, meski hanya dengan beberapa bungkus mie instan.
Label: opini
Haruskah Memaafkan Pak Harto ?
Baca Lanjutannya
Saya pernah melakukan kesalahan (banyak bahkan), orang tua kita pernah, pasangan kita pernah, tetangga kita pernah, dan sudah tentu Pak Harto juga pernah. Intinya, tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi apakah semua kesalahan itu bisa dimaafkan, diabaikan atau dilupakan ? saya kira kata memaafkan tidak sama dengan melupakan, betul ga ya?Sebelum berbicara tentang Bapak Pembangunan kita (eh, siapa ya yang ngasih julukan ini sama beliau ?), saya mau bercerita pengalaman saya hari ini. Seperti ceritaku di Balada Para Tetangga, kadang tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba ada yang sengaja menyinggung perasaan kita. Mungkin dengan kadar masalah yang sepele. Ini ujian sebenarnya. Ujian dari ilmu yang pernah kita dapatkan. Tentang kesabaran, maaf memaafkan, kelapangan hati. Huh…pada kenyataannya berat banget ya. Apalagi kalau ditambah dengan percobaan mengubah opini publik. Wow..ribet deh. Hari ini ada yang setengah ngomel karena katanya aku harus mengalah dan minta maaf. Ah tau deh, gue bete banget sebenarnya, tapi ya udahlah minta maaf aja biar semua senang.
Yap begitulah, ternyata masalah yang sederhana aja bisa jadi agak-agak rumit kalau menyangkut orang lain. Apalagi kalau menyangkut rakyat banyak ya, seperti kasus Pak Harto ini. Anak-anak beliau (konglomerat-konglomerat negeri ini), meminta rakyat agar segera memaafkan mantan orang nomer satu ini. Terus terang aku sih pengen ketawa. Memaafkan mah gampang Mas…Mbak…, tapi bukan berarti melupakan ratusan triliun uang rakyat yang nyangkut di pundit-pundi keluarga mereka deh kayaknya. Ya walaupun sebenernya sih, kalaupun uang itu kembali ke pemerintah, kayaknya ga ada ngaruhnya deh buat keluarga saya, tetep aja beras beli, sampah bayar, dokter mahal…ya ga…?
Jadi, haruskah kita memaafkan Pak Soeharto ? Memang lebih baik kita maafkan saja ya. Dan kalau pengadilan di dunia belum bisa benar-benar adil, kita serahkan saja pada pengadilan Allah SWT. Betul ?
* Paku yang telah ditusukkan ke bambu mungkin bisa dicabut lagi, tapi bolong bekas paku itu akan tetap ada.
Akhirnya Datang Juga
Akhirnya Datang Juga. Ada yang suka nonton acara ini ? Saya sendiri mulai suka dan mulai langganan nonton. Acara ini dipandu oleh Wingky Wiryawan. Tim di Trans TV emang udah mulai kreatif kalau dibandingkan stasiun lain yang masih belum berani beranjak dari menjual sinetron. Yah walaupun kalau ga salah acara ini mengadopsi dari luar juga ya.Akhirnya Datang Juga adalah sketsa sinema yang diperankan oleh selebritis ternama. Tapi artis yang jadi bintang tamu itu tidak tahu sama sekali script dan jalan cerita dari sketsa yang akan mereka mainkan. Kebayang kan bagaimana mereka harus bisa improvisasi ketika dihadapkan pada situasi yang diluar dugaan. Jadinya lucu abisss..para selebritis ini bisa banjir keringat lo. Lumayan keliatan juga yang emang jago improvisasi, jago ngelawak atau yang emang tegang banget. Oh iya, jurinya cuman satu yaitu Didi Petet, dan setiap penayanganan ada artis yang dapet piala acara ini.
Kritknya apa ya..mungkin kalau aku sih pengennya jurinya ditambah aja, biar rame. Tapi jurinya ga usah galak-galak, kan emang acara ini bukan ajang pencarian bakat, ya ga ? Pokoknya hiduplah acara-acara kreatif di Indonesia, acara televisi maju, adalah tanda-tanda peradaban negeri ini mulai maju juga, ya kan ?
Dampak Perselingkuhan Bagi Wanita
Hari ini seorang teman menceritakan tentang problem pernikahannya. Perselingkuhan dan ketidakharmonisan, itulah permasalahan utamanya. Pernikahan yang berjalan lebih dari 4 tahun itu sedang dilanda kegelisahan. Mengapa pasangan bisa tega berkhianat ?Padahal memutuskan menikah adalah keputusan seorang Bapak untuk menyerahkan anak gadisnya ke tangan orang lain, dan keputusan seorang gadis untuk menyerahkan semua miliknya pada seorang lelaki asing. Setelah hari pernikahan itu, semua tidak sama lagi. Akan ada tawa yang berbeda dan tangis yang berbeda pula, akan ada hari-hari yang penuh warna. Tidak heran kalau saat akad bisa saya lihat betapa beratnya seorang Bapak melepas anak perempuannya. Entahlah apa yang ada di depan hari-hari anaknya kelak, entah apakah si lelaki membawakan kebahagiaan pada anaknya, atau bahkan sebaliknya. Sang Bapak hanya tawakkal. Gadis yang dulu dia asuh dengan penuh kasih sayang, yang ia gendong dengan kekuatan tangannya, kini dia serahkan pada orang lain. Wahai para suami, begitulah saat seorang Bapak menjabat tanganmu waktu melakukan akad nikah.
Memasuki hari-hari pertama pernikahan, biasanya pengantin akan merasakan syurga dunia, semua terasa indah. Perbedaan yang dihadapi pengantin baru adalah warna indah yang akan dihadapi dengan canda tawa. Tapi untuk sebgian besar pasangan, berapa lama syurga dunia ini dirasakan, pasti berbeda-beda. Kita ambil rata-rata satu bulan. Setelah itu timbulah rutinitas, semua jadi terasa biasa. Dan setahun pertama biasanya masih bisa dilewati dengan perasaan saling merasa ‘cocok’.
Tahun kedua dan selanjutnya adalah ujian stabilitas keluarga. Apa yang akan terbentuk sudah terlihat, sudah terbaca semua sifat dan karakter pasangannya. Bisa mendengar apa yang tidak terucap dari pasangannya. Lalu bagaimana jika pada saat ini baru ketahuan ada bakan tidak baik dalam diri pasangannya, misalnya suka bermain api dengan wanita/laki-laki lain ? apa yang harus dilakukan ?
Saya tidak bisa bercerita bagaimana kalau yang mengalami atau melakukan adalah laki-laki (karena saya bukan laki-laki), maka saya akan bercerita bagaimana sudut pandang seorang wanita, wanita yang diselingkuhi. Saya yakin 99 persen wanita akan sakit hati kalau suaminya selingkuh, itu standar. Masalahnya, apa yang harus dilakukan sang istri. Dilematis.
Bercerai ?
Saat pernikahan sudah dikaruniai anak, maka anak prioritas utama. Rasanya jangankan menyakiti anak, bahkan anak digigit nyamuk aja rasanya tidak rela. Sedangkan kalau memutuskan harus bercerai, akan sangat riskan bagi perkembangan jiwa seorang anak. Selain masalah anak, juga masalah status, bagi seorang wanita status janda itu agak menakutkan. Biasa diidentikan dengan penggoda, perebut suami orang dan sebagainya. Penghasilan, biasanya setelah punya anak wanita lebih focus mengurus anak, maka darimana bisa melanjutkan kehidupan. Setelah bercerai biasanya wanita menjalani kehidupan betul-betul dari nol, sangat berat.
Bertahan ?
Bisa saja bertahan demi anak, demi status dan biaya hidup. Tapi bagaimana dengan hati nurani, siapkah menerima rasa sakit yang terus menerus ? Entah apakah rasa sakit itu bisa berkurang karena lama-lama jadi terbiasa ?Mungkinkah suatu hari snag suami akan berhenti berselingkuh ?
Poligami ?
Masalah ini perlu dibahas dengan sangat panjang, tapi bagiku ini adalah pintu darurat.
Ada beribu alasan kenapa seorang lelaki berkhianat, daftar panjangnya saya tidak tahu, tapi katanya puber kedua itu memang ada. Dengan tulisan ini saya cuma ingin berbicara kepada lelaki dimanapun kalian berada, bahwa wanita memang lebih lemah. Kendali pernikahan dan nasib seorang istri, adalah hak mutllak seorang suami. Menikah bagi kami seperti masuk ke dunia baru yang tidak pernah bisa dibayangkan bagaimana di dalamnya. Tapi bila pernikahan itu tidak menyenangkan maka keluar dari pernikahanpun, bagi kami sangat beresiko.
Menikah adalah episode hidup yang harus dijalani. Jika bertemu kebahagiaan maka itu adalah anugerah, dan tidak berbahagia maka itu adalah cobaan. Semua dikembalikan saja pada Sang Pemilik Kehidupan.
Bunga Citra Lestari dalam Para Penjaga Hati
Tapi aku yakin semua ini bukan karena tidak ada sineas yang punya visi yang jelas, atau pendidikan persinetronan yang baik. Semua ini kemungkinan karena penonton saja yang belum siap diajak berfikir yang agak realistis. Mungkin cari makan saja susah, ngapain nonton yang susah juga. Jadi kalau begitu apakah mau selamanya televise kita mengikuti semua keinginan penontonnya ? tidak mungkinkah televisilah yang sedikit demi sedikit menggiring masyarakat pada hal-hal yang lebih logis ?
Walaupun sekarang yang dominan memang sinetron yang payah abis, tapi tidak dapat disangkal bahwa sinetron yang bagus juga kadang-kadang muncul. Diantara ciri-ciri sinetron yang bagus menurutku :
- Dibuat dengan apik dan detail
- Tidak membosankan
- Tidak menggurui
- Meninggalkan kesan yang mendalam dan yang penting juga, sinetron itu jelas kapan tamatnya.
Hahaha… memang lucunya sinetron kita yang kebanyakan itu kan ga jelas kapan tamatnya. Terlalu banyak kebetulannya sehingga jalan ceritanya ga tamat-tamat. Kalau penonton bosen baru deh dibuat tamat. Tapi udah tamat gitu ternyata dibuat lagi sinetron lain dengan pemain yang sama persis, cuma beda cerita sama namanya aja. Aduuuuuh membosankan banget, dan membingungkan. Masa sih mereka kekurangan kreatifitas. Oh iya, beberapa sinetron yang menurutku bagus dan kebetulan aku tonton seperti :
- Cintaku di Kampus Biru
- Dunia Tanpa Koma
- Para Pencari Tuhan
- Penjaga Hati
Dikit banget kan ? memang itu sinetron-sinetron yang berbekas dalam hatiku, yang lainnya mah (maaf ya), mudah dilupakan. Bahkan banyak sinetron Ramadhan pun yang tidak jelas juntrungannya. Atau tidak dikemas dengan baik, jadi berkesan sangat menggurui, atau isinya tetaplah percintaan hanya yang membedakan perempuannya dipakaikan kerudung. Miris juga sih, di satu sisi aku begitu geregetan, di sisi lain, aku tak bisa melakukan apapun.
Sinetron Penjaga Hati
Aku ingin mengomentari sinetron yang sedang tayang di SCTV ini secara khusus. Sinetron ini mengisahkan seorang anak muda, anak orang kaya, badung dan tukang bikin onar. Nama anak ini Olga, diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Karena kedua orang tua Olga sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menyadarkan Olga, maka dibuatlah scenario agar Olga belajar menghargai hidupnya. Ayah Olga dikabarkan hilang di laut, sedangkan ibunya stress lalu gila, dan kabur dari Rumah Sakit Jiwa. Jadilah Olga sebatangkara, dan tanpa kemewahan lagi karena harta orangtuanya habis disita oleh bank. Olga tinggal di panti asuhan dengan segala kesederhanaannya dan konflik-konfliknya. Disinilah Olga bermetamorfosis, belajar banyak dari kesulitan-kesulitan yang ia hadapi.
Banyak hal yang bisa diambil dari cerita ini, bahwa ternyata kelimpahan harta bisa menyesatkan terutama buat anak-anak yang tidak menghargai jerih payah orang tuanya. Dan yang terpenting, bahwa tidak ada kata terlanjur, separah apapun kenakalan seorang Olga, ternyata masih bisa jadi orang baik. Proses perubahan ini dibuat sangat apik, menyentuh dan realistis. Tio (Dimas Seto), seorang penjaga panti tampil sangat tampan, perhatian dan bijaksana. Pantes kalau akhirnya anak-anak panti banyak yang jatuh cinta sama dia…hehehe….Sangat mendidik dan bagus ditonton oleh anak muda, terutama yang hidup di ibukota. Kalau ada nilai 1-10 maka aku kasih nilai untuk sinetron ini adalah 8….
Semoga saja dalam keprihatinan kita dengan degradasi moral pada anak-anak muda, maka sinetron seperti ini bisa dijadikan sedikit pencerahan.
Say No to Drugs !!!
Say No to Free Sex !!! (Kondom hanya solusi, bagi yang sudah menikah, ok ?)
==========================================
Karena banyak yang mau tahu lirik lagunya sountrack Penjaga Hati, di bawah saya tambahkan lirik lagunya Hampa-Ari Lasso :
Hampa
by Ari Lasso
Kupejamkan mata ini
Mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu
Tentang Mimpiku
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah diriku
Chorus:
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah di sana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu ....
Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu-satunya
Yang bisa membuat jiwaku
Yang pernah mati menjadi bararti
Namun kini kau menghilang
Bagaikan di telan bumi
Tak penahkah kau sadari
Arti cintamu untukku
Label: opini
AA GYM tampil di acara KICK ANDY

Lama tidak bersua dengan Aa Gym ada perasaan kangen juga pada beliau. Kangen pada kehalusan bahasanya, kebijaksanaannya juga humor-humornya….Saya memang mengidolakan beliau. Beliau adalah dai yang menyampaikan kebenaran dengan kata-katanya yang sederhana, tanpa kesan menggurui atau sok tahu, dan dikemas secara halus dalam bahasa yang sangaaaat sopan. Bagi beliau Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin, maka menyampaikannya pun harus dengan kasih sayang. Tidak ada paksaan untuk masuk Islam, dan tidak perlu kekerasan untuk menyampaikan kebenaran. Hati harus diketuk dengan hati. Begitulah kesanku pada beliau. Sebelum menikah dulu, hampir setiap jadwal ceramah Aa di Jakarta saya datangi. Kadang materi ceramahnya itu-itu juga sih (hehehe maaf A..), tapi aku mencari kesejukan dalam kebersahajaan beliau.
Pertama melihat Aa Gym, ketika beliau hadir mengisi ceramah di sekolahku, sekitar tahun 1999 kalau tidak salah. Beliau belum begitu terkenal, ceramahnya masih di
Begitulah yang beliau ceritakan dalam acara kick Andy. Sampai akhirnya cara yang beliau ambil adalah berusaha melepaskan kecintaan jutaan jamaahnya dengan cara yang kontroversial. Menikah lagi alias poligami.
Jalan hidup seseorang, keputusan yang diambil oleh siapapun, adalah hak dia dan akan dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah, oleh dirinya sendiri. Kalau ada yang tidak sepaham dengan dia, maka tidak mengapa, selama tidak saling menyakiti. Itulah kata-kata beliau yang lainnya. Saya kira, orang sebijaksana Aa Gym memang pantas diberikan kepercayaan oleh masyarakat dalam menentukan jalan hidup beliau sendiri.
Tapi ternyata masyarakat belum siap. Kadang kita belum bisa memilah-milah mana bagian yang kita suka dan mana bagian yang kurang kita setujui. Kadang nila setitik menodai susu sebelanga. Kebaikan Aa yang selama ini menunjukan kesederhanaan berpikir, kelurusan pandangan hidup, kelembutan hati, dsb. semua terlupakan karena ketidaksetujuan kita pada satu hal. Mungkin satu hal yang sebenarnya biasa saja, hanya kita yang kurang tahu ilmunya.
Sampai hari ini saya masih kagum sama Aa Gym dan masih menunggu kata-kata bijaknya yang menyejukkan. Mungkin kalau boleh saya menyayangkan, bahwa ada jutaan umat (terutama ibu-ibu), yang sekarang berhenti mengaji, berhenti belajar, dan bahkan menafikan semua pengajaran yang dulu beliau ajarkan. Kata-kata yang mereka ingat tentang aa Gym hanyalah Aa nikah lagi, berpoligami. Sayang sekali, dan mungkin harus segera ada Aa Gym junior yang akan menarik simpati ibu-ibu lagi dan kembali getol mengaji. Dai yang tidak takut dengan kesuksesan, tidak merasa terlalu bersalah karena kesibukan, dan tidak berpoligami dulu sebelum pemahaman umat disiapkan. Atau setidaknya sebelum ada ustadz lain lagi yang bisa meneruskan perjuangan.
Kalau hari ini Aa Gym merasa lebih nyaman karena lebih banyak aktivitas di lingkungan keluarga, alhamdulillah. Itu pilihan hidup Aa. Saat ini saya sangat berharap, segera terbit sinar sinar baru yang akan secemerlang Aa Gym, atau lebih lagi, yang akan menuntun bangsa ini menuju hari esok yang lebih baik.
Label: opini
Berkulit Putih = Cantik ???

“ Kalau ada salon yang bakal sering saya datangi, ya salon untuk menghitamkan kulit, tapi sayang di Indonesia belum ada”, itu adalah kata-kata Agnes Monika di tayangan infotainment siang ini.
Menggelitik sekali
Jadi, sebenarnya yang cantik itu wanita yang putih atau kecoklatan sih ? apakah hitam juga bisa cantik ? buktinya yang berkulit gelap seperti Beyonce juga jadi ikon kecantikan.
Hmm..pada akhirnya timbulah kesimpulan, ternyata “terlalu” memperhatikan kecantikan outer, membuat seseorang makin merasakan banyaknya kekurangan diri. Tidak mengherankan kalau produk-produk kecantikan diri bisa berharga selangit, dan wanita-wanita dengan berdalih demi penampilan, santai aja mengoleksi semuanya.
Lalu….apa kabar ya inner beauty sekarang ?
Aku yakin wanita yang intelek lebih mementingkan inner beauty, kecantikan dari dalam yang lebih menonjolkan kebijaksanaan, ketajaman logika dan kemandirian. Kecantikan outer bisa dirawat dengan sederhana, tidak berlebihan. Hasilnya akan menampilkan kecantikan yang sempurna. Dan yang utama adalah keteguhan pada ajaran agama dan moral, maka jadilah wanita yang tahan seperti karang, kuat menahan berbagai jenis tantangan.
Seperti itulah muslimah seharusnya. Dan aku yakin banyak sekali wanita seperti ini, cuma sayang mereka tidak jadi public figure, karena jarang muncul di media
Memang tidak dapat dipungkiri beberapa
Label: opini
MENJADI FTM ? WHY ?
Beberapa hari yang lalu teman saya kerja dulu ada yang nanya (dia saat ini sedang hamil dan masih bekerja), ngapain aja sih kalau jadi full mother ? hehehe…bingung juga jawabannya, abis di
Hmm…..jawabannya akan panjang, tapi biar terlihat diplomatis, katakanlah itu semua adalah pilihan hidup (mengutip perkataan mantan ibu bossku). Terus terang saat awal-awal aku berhenti bekerja pasti ada rasa kangen pada gaji yang hilang, pada temen-temen yang bisa diajak ngobrol dan hang out, pada meeting yang kadang ga jelas-jelas amat juntrungannya. Pada awal ini juga rasanya berat menjalankan tugas-tugas rumah tangga yang rutin dan tidak bisa ditinggalin. Proses adaptasinya memang butuh waktu. Kadang rasa jenuh ini juga yang sering ditakutkan oleh ibu-ibu yang masih bekerja.
Tapi seiring berjalannya waktu ternyata memang pendidikan anaklah yang tidak bisa didelegasikan secara full time pada
Apakah seorang baby sitter tidak bisa membuat seorang anak jadi jenius ? bisa saja sih, karena kursus apapun sekarang tinggal tunjuk. Tapi bisakah seorang BS ini punya komitmen mengajarkan hal-hal lain yang jauuuh lebih penting, seperti belajar mencintai orang lain, menerima kekurangan dan kelebihan teman-temannya, komit pada janji, dsb. Saya kira tidak akan sekonsen ibunya. Entahlah bagi
Menjadi seorang full mother, mungkin menggelikan atau bahkan menakutkan bagi sebagian ibu. Katakanlah bukan pilihan hidup. Tapi bagi saya inilah kewajiban utama kenapa seorang ibu diutus di muka bumi. Mendidik seorang anak memang tidak ada sekolahnya (yang formal terutama), tapi mendidik adalah mencintai anak dan memberikan semua hak-haknya. Bahkan untuk anak, sudah sepantasnya kita dedikasikan waktu kita hampir 24 jam.
Mungkinkah yang saya bicarakan ini omong kosong ?kita lihat saja…mungkin buktinya akan kita lihat beberapa puluh tahun lagi. Mungkin juga perlu diadakan sebuah penelitian ? kalau ternyata wacana saya benar, semoga kehidupan di bumi ini akan semakin membaik.
KONTROVERSI PATUNG INUL
Hari gini, setiap orang ingin kaya, ingin terkenal, dihormati, dielu-elukan dan diingat sepanjang masa. Makanya jangan kaget kalau ajang-ajang pemilihan model, penyanyi atau kecantikan ramai diburu orang. Semuanya menawarkan gaya hidup yang ‘lebih baik’dan glamour. Hidup di ibukota memang panas. Persis kayak filmnya Dian Sastro, Dunia Tanpa Koma. Tanpa jeda dan helaan nafas. Tidak ada titik. Yang ada hanya ambisi.
Mungkin gemerlap ibukota juga yang membawa Mbak Ainul hijrah ke Jakarta bermodalkan (maaf), goyangan pantat. Memang tidak salah, kota yang gersang ini ternyata haus dengan p….t yang menggoda iman. Buktinya mbak Ainul sekarang bisa membeli rumah mewah di kawasan elite Pondok Indah dan membangun bisnis karaoke di mall-mall bergengsi. Satu lagi, ternyata mbak Ainul tidak ingin kehebohan p…tnya segera dilupakan orang. Dipesanlah sebuah patung yang memperlihatkan posisi dia kalau sedang bergoyang. Rencananya akan dipasang di tengah jalan. Mungkin ide ini datang saat melihat patung Jenderal Sudirman yang terlihat gagah. Rupanya Mbak Inul ini merasa sudah punya jasa sebanding dengan beliau. Hahaha..
Kalau tidak salah, pada akhir tahun 2006 lalu, Inul dinobatkan oleh salah satu media infotainment televisi sebagai pelopor perdangdutan gaya baru di Indonesia. Goyang ngebornya menginspirasi orang lain untuk menciptakan goyangan artis lain seperti goyang ngecor, patah-patah, dsb. Bang Rhoma gerah melihat gaya baru ini, berbagai protes beliau sampaikan. Walau sayangnya, pamor Bang Roma saat itu jatuh gara-gara ketahuan poligami diam-diam. Jadi perlawanan beliau juga cuma jadi bahan ledekan orang. Rupanya anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Demo demi demo hanya membuat Inul makin meroket, memenuhi pundi-pundi kekayaannya. Senyum lugu, kata-kata polos bahkan medhok Jowo, membuat para penggemarnya makin kepincut.
Kembali ke patung Inul. Kayaknya mulai sekarnag harus ada perda yang mengatur tentang gambar atau patung yang akan dipajang di tempat umum. Masalahnya, generasi ke depan, 20 tahun lagi, 100 tahun lagi, jika patung itu masih ada, maka patung itu akan jadi sejarah sebuah kebudayaan bangsa. Rasanya malu kalau suatu hari nanti ada yang bercerita bahwa inilah patung ngebor Inul Daratista, kebanggaan bangsa.
Malu ? ya tapi rasa malu sekarang ini memang makin gamang dan sulit didefinisikan. Tidak ada batasan dalam kebabasan hari ini. Tidak ada asusila dalam dunia seni hari ini. Tidak ada hitam dan putih, yang ada adalah abu-abu. Bahkan kalau perlu kyaipun ikut menjadi payungnya.
Ah entahlah, betapa naifnya aku mengomentari orang lain. Padahal kalau bercermin pada diri sendiri ini, bau busuk dosaku sendiri seakan sudah tak tertahan lagi. Saat di pengadilan Tuhan nanti belum tentu aku lebih baik dari Inul Daratista. Tapi hari ini, ada yang menjerit dalam hati saat melihat di tengah jalan ada patung p…t. Oh, siapa dia…jasa apa yang sudah dia berikan untuk negeri ini, sampai diizinkan menjadi bagian dari hiasan fasilitas umum. Mungkin bahkan bukan jasa, tapi rasa malu yang telah dia sumbangkan. Malu yang dirasakan (mungkin) oleh sebagian kecil kaum wanita yang berusaha sekuat tenaga menjaga diri dan kehormatannya. Mohon maaf juga tentang rasa malu ini, entahlah berapa orang yang hari ini masih merasa malu melihat saudara sejenisnya mengumbar aurat. Entahlah, bahkan kaum hawapun sudah mulai bosan tidak peduli dengan hal-hal seperti ini.
Jak, 14 Nov 2007
@Nienz
Label: opini
KOTA versus DESA
DESA
Pernah jalan-jalan ke kampung yang sebagian besar daerahnya adalah kebun, sawah, dan dikelilingi hutan ? mungkin sebagian besar dari kita pernah dong. Melihat bapak-bapak yang berangkat setelah subuh menyandang cangkul, dan ibu-ibu yang memandikan anaknya di pemandian umum, di kali atau sumur warga. Hmm…aku dibesarkan di daerah seperti itu. Dimana setiap warga dalam kampung tersebut adalah saudara. Tidak ada yang kelaparan disitu, tidak ada pengemis atau pengamen. Indah menurutku. Membuatku sering rindu kampung halaman.
KOTA
Bertahun-tahun lalu aku mulai hijrah ke kota. Dimulai dari sekolah di Bandung, kemudian bekerja di Jakarta. Dan sampai sekarangpun masih merantau. Merasakan sesaknya ibukota yang setiap jengkal tanahnya sangat berharga, hingga niatku punya rumah sendiri belum kesampaian. Yang separuh warganya adalah orang-orang terkaya di negeri ini, dan separuh lagi adalah gambaran masyarakat termiskin yang pernah kulihat. Yang panjang jalanannya tidak muat menampung banyaknya kendaraan yang lewat. Hmm…kayaknya negeri ini mulai berat sebelah.
DESA
Dari segi pemikiran orang desa sangat sederhana, polos dan lugu. Bisa makan hari ini, diberkahi kesehatan, bisa ibadah dengan tenang, itulah kenikmatan. Cita-citanya adalah bisa panen dengan lumayan, tanpa hama dan bencana. Hiburan mereka makan di tengah sawah, diantara padi yang menguning, ditingkahi kicauan burung. Kendaraan mereka adalah kaki yang kuat, yang mampu berjalan berkilo-kilo meter. Yup, sehat sekali hidup mereka.
KOTA
Sedangkan orang kota adalah para pemikir yang smart dan intelek. Yang penuh ambisi untuk memajukan peradaban dunia. Tujuannya adalah menaklukan kekerasan kota, dengan menjadi bagian yang paling dihormati, dihargai dan berkuasa. Tidak banyak saling mengenal secara pribadi dan emosional. Bahkan tetangga sebelahpun tidak tahu siapa namanya. Pertemanan adalah masalah untung rugi, no bisnis, no friend. Kendaraanya adalah mobil import keluaran terbaru, yang menyedot banyak minyak bumi. Dan hiburannya adalah, mall-mall mewah dan barang-barang dengan harga selangit.
DESA vs KOTA
Orang desa berlumur peluh,orang kota berkacamata tebal dan berkepala botak. Orang desa tak pernah bermimpi, orang kota tak pernah merasa puas. Jam tujuh malam di desa, jalanan sudah sepi, gorden sudah tertutup, yang ramai hanya suara ngaji anak-anak di mushola. Jam tujuh malam di kota, raungan motor dan gemuruh mobil memadati semua ruas jalanan, padat merayap tanpa harapan.
Dimanakah KEBAHAGIAAN ?
Entah pada siapa sebenarnya kekhalifahan bumi ini bisa diserahkan, pada orang desakah, yang tidak akan merusak, tapi akan sedikit membangun. Ataukah pada orang kota yang akan terus memugar bumi ini sekehendak hatinya. Cukupkah perut kenyang dan tidur nyenyak membuat kita bahagia. Bukankah sekali-kali pengen juga merasakan tidur di rumah mewah dan makan semua jenis makanan di muka bumi ini. Sekali lagi, entahlah. Dunia ini memang seperti air laut, semakin diminum maka akan semakin merasa haus. Mungkin sebaiknya tidak harus terlalu berlebihan mengejar dunia, meskipun tidak baik juga kalau tidak mengoptimalkan semua potensi diri.
Label: opini
ALIRAN BARU, ATAU AGAMA BARU ?
Alqiyadah Islamiyah. Duh akhir-akhir ini nama Ahmad Mushadeq kayaknya lagi ngetop banget di media. Bapak satu ini mengaku dirinya Rasul yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW. Katanya pengikutnya sudah 40 ribuan lebih….hhhhhhh..
Dengan melihat tayangan di media, kayaknya saya sedikit mengerti modus penyebaran aliran ini. Ada proses brain washing atau pencucian otak di dalamnya. Cara memperkenalkannya biasanya dengan membawa kita pada sempalan-sempalan ayat Al-Quran yang diterjemahkan secara seenaknya. Kemudian dicocok-cocokkan dengan step by step perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Seperti periode jahiliah, periode mekah, madinah, dan futhu mekah. Nah karena saat ini masih periode jahiliah atau periode mekah, jadi sekarang belum perlu sholat lima waktu. Hmm kayak mirip-mirip flashback kali ya..atau napak tilas..Lucu juga ya..masa perjalanan dakwahnya ngopi paste dari perjalanan Rasulullah SAW. Pak Mushadeq kurang kreatif dooong….
Biasanya nanti akan diminta banyak berkorban, teruatama waktu dan dana. Emang sih agak-agak UUD juga (ujung-ujungnya duit). Karena katanya dakwah butuh biaya..(yaiyalah…di Jakarta apalagi, pipis aja butuh biaya…hehehe…). Eh, lebih parah lagi akhir-akhir ini terbongkar oleh polisi bahwa ada surat pernyataan pengakuan dosa yang disertai dengan pemberian uang. Katanya kalau kita sudah menyerahkan itu, maka dosanya langsung diampuni. Hahahaha…sampai sakit perut mendengarnya…(mual maksudnya).
Gemes, geli, marah, bodo amat…tapi juga periiiih. Setelah 1500 tahun Islam berkembang di dunia, ternyata pemahaman tentang keislaman umatnya (mayoritas), masih secuil. Mungkinkah saat ini adalah saat dimana umat islam jumlahnya banyak tapi bagai buih di lautan ? Tidak berdaya dan tidak peduli. Sabodo amat orang sekampung kita mau masuk syurga apa neraka. Jangan-jangan orang pandai sekarang berpikir begitu ya, naudzubillah…
Dimanakah kebenaran ?
Sekarang mencari kebenaran, kayak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tanya polisi, jawabannya begini, tanya psikolog jawabannya begitu, tanya ustadz ini beda lagi, ustadzah ini lain juga. Soooooo…puciiiing kaaaan….Ada sih beberapa orang yang menurut saya sendiri (sekarang ini) bisa dipercaya. Dasar keilmuannya kuat, background pendidikannya tidak meragukan (dan lurus), kiprahnya bikin kagum…tapi mereka ini jauuuuh banget. Paling sesekali hadir di televisi. Itupun sebentar, yang diomongin politik. Duduknya bukan di mushola atau di mesjid, tapi di gedung DPR, atau di cabinet. Hmmm..umat bagai pungguk merindukan bulan ya... Ada sih ustadz kondang yang bisa diundang kemana aja…tapi bayarannya mahal booooo…..nentuin tarif sih engga, cuman ya mesti tau dirilah, karena sibuknya jadwal ceramah mereka..ya wajar kan…(mohon maaaaaf banget apabila ada yang tersinggung….).
Jadi kalau umat sekarang bingung (ditambah bingung nyari makan juga yang makin susah), salah siapa coba ???? au ah gelap.
Kembali ke Pak Mushadeq. Sekarang kan jaman udah liberal Pak, serba bebas. Apa ga sebaiknya Bapak bikin agama baru aja ya Pak ? jangan bawa-bawa nama Islamiyah. Hati saya pribadi, dan ratusan juta umat islam pastinya, periiiiih….ga rela….Terserah deh Bapak mau ngasih nama apa, mau ajaran kayak gimana…lakum dinukum waliyadin…Tapi plis sekali lagi, jangan bawa-bawa nama Islam. Tidak mengakui nabi Muhammad sebagai Nabi yang terakhir, berarti bukan islam. Titik.
Kalau berbicara tentang motif, mungkin Pak Mushadeq yang paling tahu. Apakah Bapak sedikit kekurangan uang, kurang waras, atau ada scenario lain. Wallahu alam, jutaan mata yang menatap layer kaca ini hanya menduga-duga. Tapi yang terpenting adalah, STOP ! menyakiti kami. Jangan undang lagi malapetaka yang selama ini bertubi-tubi menimpa negeri kami.
Berbeda syahadat, adalah berbeda aqidah. Jadi, mulailah memikirkan nama baru untuk aqidah yang baru ini.
Label: opini
Bangsa yang MISKIN
Berapa juta sarjana yang ditelorkan oleh universitas2 di negeri ini setiap tahun, tapi kelahiran mereka hanya menambah deretan jumlah pengangguran, atau menyesaki kantor2 yang sudah kekurangan pekerjaan. Ya, mindset yang tertanam sejak nenek moyang, bahwa jalan hidup adalah, teruslah nak sekolah yang tinggi, lalu carilah pekerjaan aman yang bergaji tinggi.
Aku juga dulu berfikir begitu..kalau ga jadi sarjana, kalau ga dapet IP di atas 3, kalau penampilanku ga menarik, jangan harap bisa hidup enak..jangan harap dapet kerjaan bagus...mungkin ada benarnya sih, kalau masih ingin 'menitipkan diri' pada perusahaan orang lain, ya harus seperti itu..
Mungkin wirausaha memberikan kita uang yang banyak, atau mungkin tidak memberikan uang terlalu banyak, tergantung kecerdikan kita juga...tapi wirausaha memberikan kebebasan. Wirausahaakan membentuk seseorang lebih mandiri, tidak tergantung pada orang lain, tidak menjadi beban orang lain. Bukankah lebih baik jadi boss kecil, daripada jadi budak para pembesar...
Ada sebuah keluarga yang terdiri dari 3 orang kakak beradik. Kakaknya yang tertua lulusan D3, sedangkan adik-adiknya drop out dari tempat kuliah karena kekurangan biaya. Kakak tertuanya diterima di sebuah perusahaan yang lumayan bergengsi, milik sebuah petinggi negeri ini, dan kedua adiknya banting tulang jadi wirausahawan. Ternyata perusahaan tempat si kakak bekerja ini bangkrut, dan jadilah dia pengangguran. Selama setahun dia depresi berat. Mau wirausaha bingung ga punya pengalaman, sedangkan anaknya masih pada kuliah...hmmm..akhirnya sekarang si kakak membantu usaha adik-adiknya yang sudah sukses. Anak sang kakak pernah bertanya pada ayahnya : " Yah, kenapa dari dulu ayah ga jadi pengusaha saja ?", ayahnya bilang :"karena ayahlah satu2 nya yang berpendidikan tinggi".Ini kisah nyata, yang diceritakan langsung oleh anak sang kakak tertua pada saya...
Tidak ada yang salah pada pilihan seseorang untuk jadi seorang karyawan seumur hidupnya...tapi perusahaan bukan satu-satunya ladang pencaharian..dan perusahaan belum tentu menjamin apapun.
Dan memang kasian sekali, para pembantu yang tergantung pada majikannya, para buruh yang tergantung pada perusahaannya, juga para istri yang tergantung pada suaminya...hehhehee...
Berhentilah mengemis...
Mulailah menggunakan akal dan tenaga..
Mulailah bergantung hanya pada Allah SWT...
Bismillah..
Label: opini





















